Pages

Showing posts with label Tumbuh dan Kembang Bayi-Anak. Show all posts
Showing posts with label Tumbuh dan Kembang Bayi-Anak. Show all posts

Tuesday, November 5, 2013

Agar Mata Si Kecil Tetap Berbinar


 
               Mata bayi Anda kelihatan kotor dan “redup”? Tak usah khawatir dulu. Asal tahu caranya, mata mungilnya bisa “bersinar” lagi!
 
              Mata adalah jendela untuk melihat dunia. Jadi sudah sepatutnya Anda tidak mengabaikan kondisi mata si kecil. Tentu saja ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.
 
•  Cari penyebabnya
Penyebab “redupnya” mata bayi bisa beragam (silakan lihat boks “Ini Dia Penyebabnya!”). Untuk memastikannya, berkonsultasilah dengan dokter anak Anda. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan benar-benar tepat.

•  Siap-siap dulu sebelumnya
•  Tangan Anda harus bersih. Ini untuk menjaga kuman-kuman yang “nakal” ikut-ikutan masuk ke mata mungilnya.
•  Gunakan kapas bulat yang lembut, sebab “serpihan” kapas tidak akan menempel di mata dan menimbulkan iritasi.
•  Celup kapas bulat dalam air hangat, agar tidak tidak terjadi iritasi.

•  Saat membersihkan mata
•  Rajin-rajinlah membersihkan matanya, minimal berbarengan saat Anda membersihkan tubuhnya di pagi dan sore hari.
•  Ganti kapas setiap kali membersihkan mata bayi, agar kotoran mata yang sudah terambil tidak mengenai matanya lagi. Tindakan ini juga mencegah kontaminasi kuman dari satu mata ke mata lainnya.
 
 
Boks:
Ini Dia Penyebabnya!
 
•  Sebelum berusia 48 jam. Biasanya akibat kontaminasi cairan ketuban atau darah seusai persalinan. Kotoran matanya akan berwarna kecokelatan, tapi tidak berbau.
•  Setelah usianya 48 jam. Ini karena infeksi. Umumnya, kotoran mata akan berwarna kuning kehijauan dan berbau. Infeksi bisa juga ditandai radang pada mata, berupa bengkak dan berwarna kemerahan.   
•  Sumbatan pada saluran air mata . Terjadi karena ada sumbatan di saluran air mata, sehingga air mata menggenang dan debu yang beterbangan di udara lengket di mata.  
 
Nia L. Tobing
 



Cara Bijak Memarahi Anak



Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.

Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.

Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman

Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".

Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman- teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.

Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Pertama, Adalah buruk memarahi tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.

Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.

Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman. Bila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam.

Di sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.

"Ibu / Bapak Sudah Bilang Berkali-kali."

Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.

Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Ibu / Bapak sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan."

Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.

Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif, betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.

Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja

Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur. Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi. Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi, tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya. Ia bisa belajar membenci adiknya.

Apa yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian. Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi- sembunyian."

Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh.

Sebagian kita merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja ngeyel."

Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.

Jangan Katakan "Jangan"

Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata "jangan". Kita menggunakan kata jangan begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata jangan, bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain. Padahal kata jangan tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel (kepala batu, orang Bugis bilang).

Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali. Begitu pun keluarga. jangan katakan jangan pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti."


Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.

Bayi Normal Butuh Tidur 16 Jam Sehari



Sebagai seseorang yang baru lahir ke dunia, seorang bayi memang tidak tahu apakah ia berada di siang hari atau malam hari. Tugas orang tua adalah menjaga agar sang bayi mendapatkan tidur yang cukup setidaknya 16 jam sehari dimana disetiap empat jam sekali sang bayi harus mendapatkan suplay makanan.

Suplay makanan itu tidak dipedulikan oleh sang bayi apakah terjadi pada malam hari atau siang hari. Karena dengan perut yang kecil, sang bayi tidaklah cukup lama bertahan dari rasa lapar ketika dirinya disusui oleh sang ibu.

Ketika masih bayi, seorang bayi mengalami jenis perbedaan tidur: drowsiness, REM (rapid eye movement) sleep, light sleep, deep sleep, dan very deep sleep. Setelah beranjak dewasa dengan semakin bertambahnya usia maka jenis-jenis tidur itu semakin lama semakin bertambah atau berkurang.

Banyak ahli menilai sebaiknya orang tua tetap menjaga agar bayinya tidak terlalu panjang dalam tidurnya tanpa didampingi sang ibu. Karena sang ibu harus tetap memberikan ASI setiap 4 jam sekali.

Yang lebih penting adalah menjaga kondisi disekitar bayi ketika tidur agar bisa bernafas dengan sempurna. Biasanya banyak mainan dan berbagai jenis perlengkapan bayi berada disekitar bayi ketika tidur.


Karena jika hal ini tidak diperhatikan maka banyak kejadian bayi yang mengalami kematian mendadak dan jaga agar bayi tidak tidur dengan muka tengkurap, karena bisa menghalangi jalanya pernafasan.

Friday, April 5, 2013

Dot Bayi


Selama ini, dot selalu menjadi senjata andalan para ibu ketika mereka harus memberikan ASI perah (ASIP). Bentuk dot yang mungil dan mudah digenggam serta struktur karet isapan yang berbentuk seperti puting payudara dianggap bisa membantu bayi minum susu lebih mudah. Selain itu, karet dot juga meminimalisasi ASIP yang tumpah dibandingkan dengan metode pemberian ASIP lain seperti dengan sendok dan cangkir.
Namun, Inna Banani dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengungkapkan bahwa pemberian ASIP melalui dot seharusnya dihindari.
"Pemberian ASIP melalui dot tidak disarankan karena ternyata dot memiliki efek jangka panjang yang buruk untuk anak," jelas Inna kepada Kompas Female beberapa waktu lalu di Jakarta. Apa bahayanya?

1. Bingung puting

"Bentuk karet dot ini dibuat menyerupai puting, yang akan membuat anak lebih terbiasa dan suka minum dari dot dibandingkan puting payudara ibu," jelasnya.
Bingung puting ini disebabkan oleh adanya kebingungan bayi akan mekanisme dan cara kerja dot dan payudara. Dot memiliki cara kerja yang memudahkan bayi mendapatkan susu tanpa harus mengisap atau menyedot karetnya. Ketika botolnya mulai dimiringkan, secara otomatis dot akan mengeluarkan susu ke mulut bayi.
Sementara kondisi kebalikannya terjadi ketika bayi menyusu langsung dari payudara. Tidak seperti dot, payudara tidak akan mengeluarkan ASI ketika tidak ada rangsangan dari mulut bayi yang berupa isapan. "Bayi harus berjuang dan berusaha untuk mendapatkan ASI dari payudara ibunya, inilah yang menyebabkan bayi selalu berkeringat saat sedang menyusu," ungkapnya.

Jika bayi dibiasakan untuk minum menggunakan dot, lama-kelamaan ia akan lebih memilih minum dari dot dan tak tahu cara minum ASI dari puting payudara ibunya.

2.  Risiko infeksi
Meskipun risiko ASIP tumpah dari dot lebih rendah dibandingkan metode pemberian ASIP lainnya, tetapi dot tetap memiliki risiko tumpah. Salah satu alasan tumpahnya ASIP ini karena bayi sudah kenyang namun tetap dipaksa minum atau tumpah karena bayi keburu tertidur sambil mengedot. Tumpahan ASIP akan mengalir ke arah pipi, hidung, sampai telinga.

"Ini bisa sangat membahayakan si bayi. Jika masuk ke dalam organ-organ penting seperti hidung dan telinga, bisa menyebabkan bayi mengalami infeksi saluran pernapasan dan radang telinga," katanya.

3. Gangguan dan hambatan berbicara
Ketika menyusu pada payudara, bayi harus berusaha untuk mendapatkan susu sehingga rongga mulutnya akan berkontraksi dan selalu bergerak. Hal ini akan memengaruhi kemampuan otot motorik di rahangnya sehingga melatih kemampuan berbicaranya. Ketika bayi terlalu sering mengedot, ketika ia selalu mendapatkan ASIP tanpa perlu menggerakkan mulutnya, ini akan membuat otot rahangnya sedikit kaku dan memperlambat kemampuan bicara.

4. Gangguan pertumbuhan gigi (maloklusi)
Menyusu ternyata juga akan memengaruhi pertumbuhan gigi anak. "Penggunaan dot dalam jangka panjang akan membuat struktur gigi bayi jadi tak normal karena harus menggigit dan menahan dot agar tak jatuh," ungkapnya. Beberapa masalah gigi yang timbul akibat penggunaan dot ini, antara lain rahang atas yang terlalu maju atau rahang bawah yang mundur.

sumber : female.kompas.com

Tuesday, February 26, 2013

Teman Anak Kita Suka Memukul


Teman Balita Kasar

Anda pasti jengkel bila balita dipukul, didorong atau dicubit temannya. Bisa jadi  sebenarnya saat si teman berperilaku agresif, ia tidak punya intensi untuk melukai anak Anda. Ia baru bisa merasakan bahwa kepemilikannya sedang terancam bahaya, dan biasanya bentuk kemarahan adalah dengan instrumental fisik, seperti pukul atau dorong. Karena ia belum bisa mengukur kekuatannya, ia tidak sadar bahwa kelakuannya itu menyakiti orang lain. 

Lakukan ini: 

Ajak anak untuk belajar bilang, “Aku sakit kalau dipukul. Aku tidak suka.” ketika temannya melakukan ‘kekerasan’. Anak perlu belajar untuk bersikap asertif.  Adakan sesi khusus untuk ngobrol dengan anak, terlebih bila Anda melihat ia diam saja saat dikasari oleh teman. “Bunda tadi lihat kamu dipukul, sakit tidak? Bunda ingin bantu kamu, tapi Bunda kira kamu tidak butuh bantuan, kamu tidak bilang ke Bunda” adalah contoh ajakan Anda untuk membiarkan anak mengungkapkan perasaannya.

Beri contoh cara mengungkapkan emosi  misalnya ketika mainannya diambil paksa, katakan “Jangan ambil mainanku!” bukan dengan memukul. Atau bila sedang bermain gulat –anak usia ini, terutama anak laki-laki sedang hobi bermain gulat atau yang berhubungan dengan kekuatan– bermain pura-pura saja. Ketika ini sudah tertanam pada anak, bisa jadi ia malah ‘mengajari’ temannya cara ini.

Sumber : http://www.ayahbunda.co.id

Jika Anak Kita Dipukul Temannya


SI KECIL PUN BERHAK MEMBELA DIRINYA

Moms, apa yang biasa Anda katakan pada anak-anak Anda jika mereka disakiti atau dinakali oleh teman-temannya?

Ya, sering kali kita melarang anak-anak kita untuk “membalas” atau menyuruhnya untuk mengalah saja apabila ia dipukul atau dinakali oleh saudara atau teman bermainnya. Selain untuk menghindari pertengkaran berlanjut, Anda mungkin juga takut jika si kecil malah menjadi senang memukul, yang akhirnya justru anak Anda-lah yang dicap sebagai anak nakal.

Padahal, sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun memiliki hak untuk membela diri atau melakukan pembelaan ketika ia merasa disakiti atau dilanggar hak-haknya. Mudah membalas perbuatan nakal anak lain, memang kurang baik. Tapi, terus-terusan mengalah pun, lebih tidak baik lagi bagi tumbuh kembangnya di masa mendatang.

Anak-anak yang tidak pernah diajarkan tentang harga diri atau self esteem, akan tumbuh menjadi anak-anak yang rendah diri, menarik diri dari pergaulan, tidak percaya pada kemampuannya sendiri, pengecut, cengeng, malas, atau bahkan sebaliknya, ia akan menjadi anak yang egois, cenderung menindas anak-anak yang terlihat lebih lemah, pembohong, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana caranya?

Ajari anak Anda untuk “berhitung”. Ini adalah cara yang sangat mudah untuk menumbuhkan harga dirinya, tanpa harus membuatnya menjadi anak yang nakal.

Tanamkan padanya, jika ada teman atau saudaranya merebut mainannya, atau memukulnya, maka cegah agar anak Anda tidak langsung marah dan membalas. Tapi, tekankan padanya untuk menghitung. Satu kali, diamkan. Ia bisa mengalihkan diri dari mainan yang semula atau menjauh dari anak yang suka memukul tadi. Dua kali dipukul, diamkan lagi, tapi ajari si kecil untuk waspada. Tiga kali ia masih tetap dipukul, maka ia boleh untuk balas memukul, satu kali saja, lalu pergi untuk menjelaskan alasan mengapa ia memukul temannya pada Anda.

Anda mungkin masih takut jika “pembalasan” anak Anda akan menuai protes dari orang tua si anak yang tadi lebih dahulu memukul. Jangan takut, sebab anak Anda harus dan perlu membela dirinya. Anak Anda berhak. Dan hanya orangtua yang tidak bijak saja yang tidak mau berkaca dan melihat bahwa begitulah dunia anak-anak. Kadang bertengkar, semenit kemudian akur lagi, begitulah.

Sumber : http://www.rumahbunda.com/

Saturday, February 23, 2013

Memberikan Anak Tugas Rumah Sesuai Usia


Melatih anak bertanggung-jawab dan disiplin bisa dilakukan dengan memberikan mereka tugas harian di rumah. Yang akan mereka dapatkan bukan hanya rasa tanggung-jawab, tapi juga life skill yang dibutuhkan saat ia tumbuh dewasa.
Tugas-tugas rumah akan membentuk anak jauh dari sifat manja dan membangun kemandiriannya. Yang perlu diingat, berikan tugas harian sesuai dengan usianya. Karena anak-anak juga punya keterbatasan untuk melakukan tugas rumah yang masih rumit.
Berikut ini adalah daftar tugas yang harus disesuaikan berdasarkan usianya:
Batita (usia 2-3)* Memungut mainannya yang berceceran.
* Mengelap debu di meja dengan kemoceng.
* Membantu mengeluarkan pakaian dari mesin cuci ke keranjang.
Anak prasekolah (usia 4-5)
* Semua tugas di atas.
* Membawa piring kotor ke bak cuci piring.
* Memberi makanan hewan peliharaannya.
* Menyiram tanaman sambil mencabuti rumput liar.
Anak sekolah dasar awal (usia 6-8)* Semua tugas sebelumnya.
* Membantu memasak dengan mencuci bersih bahan-bahan makanan. Anda juga bisa memintanya mengambil dan mengumpulkan bahan makanan yang akan diolah.
* Membantu melipat pakaian bersih.
* Menyapu lantai, paling tidak dari kamarnya sendiri.
Anak sekolah dasar  (usia 9-11)
* Semua tugas sebelumnya.
* Membuat sarapan yang mudah seperti roti isi untuk keluarga, sementara Anda menyiapkan bekal makan siang dan membuat minuman.
* Membuang sampah.
* Mengepel lantai.
Anak sekolah menengah (usia 12-14)
* Semua tugas di atas.
* Membantu memasak makanan lengkap.
* Mencuci piring.


Sumber: Shine

Membentuk Mental Anak Laki-Laki

Tanya:
Bu Mayke, bagaimana ya caranya membentuk mental anak laki-laki supaya berani membela diri dan kalau perlu melawan bila ada temannya yang menindas? Anak saya (5) diam saja bila mainannya direbut temannya dan sering jadi objek penderita saat bermain dengan teman-teman. Sampai gemas saya melihatnya, anak laki-laki kok "lembek" begitu. Mohon saran dari ibu Mayke. (Yohana Carline, Jakarta)

Jawab:
Mental anak laki-laki maupun perempuan perlu dibentuk menjadi anak yang percaya diri dan tangguh. Mengapa anak laki-laki Anda mudah mengalah dan menjadi bulan-bulanan teman sebayanya? Bisa saja ketika kecil dia dibiasakan untuk selalu mengalah tanpa mempertahankan dirinya dan sekarang ketika usianya lima barulah orangtua merasakan kerugiannya bila anak selalu mengalah. Kemungkinan lain, anak cenderung mempunyai kepribadian yang submisif, tidak mau berkonflik dengan orang lain dan dia mencari jalur aman.

Bagaimana menyiasati ketidakberdayaan anak menghadapi tekanan temannya? Ibu bisa membahas apa perasaan yang dialami anak ketika temannya menindas dia. Kemudian tanyakan, seharusnya bila teman mengancam atau merebut benda miliknya, apa yang akan dia lakukan. Pancing dulu diri anak, apa yang akan dilakukan ketika menghadapi situasi yang mengancam dirinya. Jangan langsung memberikan solusi pada anak, biarkan dia yang memikirkannya terlebih dulu agar lama kelamaan idenya terasah tanpa perlu dibantu oleh ibunya. Melalui metode ini, sedikit demi sedikit anak diberdayakan dan dibangkitkan keberaniaannya melawan sang penindas.

Sebaliknya, jangan mengajari anak untuk melawan dengan cara memukul teman sebab jalan ini bukan penyelesaian yang baik. Sebaiknya anak dibiasakan menyatakan ketidaksukaanya secara verbal, pernyataan, seperti, "Mainanku gak boleh di rebut" atau "Kalau mau pinjam mainanku, tunggu sampai aku selesai. Nanti kamu akan dapat giliran, kita bergantian memainkannya", "Aku gak mau dipukul", dan lain-lain.

Akan tetapi perlu dicari apa sumber penindasan, misalnya di sekolah, karena alat permainan sangat terbatas sehingga anak cenderung saling rebut dan tidak sabar menunggu giliran. Berarti pihak sekolah pun perlu memerhatikan fasilitas permainan yang memadai. Di rumah atau dengan tetangga. Lumrah terjadi saling rebut antara anak sebab mereka masih mementingkan diri sendiri. Tentunya dengan arahan orang dewasa yang mengetahui keadaan ini, pertentangan bisa ditengahi.

(Tabloid Nakita/Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSI, Play Therapist dan PSikolog)

Thursday, August 30, 2012

Bermain Piano Demi Mengasah Otak Anak

Ghiboo.com - Piano menjadi salah satu jenis alat musik yang baik untuk meningkatkan kemampuan otak.
Para peneliti di University College London dan University of Newcastle menemukan adanya perubahan struktural otak pada pemain piano profesional.
Menggunakan scan otak, peneliti melihat terjadinya perubahan pada materi daerah abu-abu (sel-sel saraf di mana mengolah informasi) dan materi abu-abu (hubungan antara sel-sel) dalam hippocampus, sebuah area di otak yang mengatur memori dan navigasi.
Perubahan yang terjadi pada otak tidak berkaitan dengan usia atau keahlian bermusiknya. Nmaun, lebih berkaitan dengan seberapa lama seseorang memainkan piano.
Penelitian sebelumnya dari Northwestern University baru-baru ini juga telah menunjukkan manfaat bermain alat musik bagi otak.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa belajar bermain musik di usia masih kecil berkontribusi pada pendengaran yang menjadi lebih baik di usia tua dan meningkatkan kemampuan belajar seumur hidup.

Saturday, August 4, 2012

Kiat Mengatasi Persaingan Kakak-Adik

Adik-kakak bertengkar? Berikan permainan yang melibatkan keduanya.

Persaingan adik kakak kerap membuat khawatir orangtua. Dalam bebeapa kasus, persaingan ini kerap dibumbui perilaku buruk anak. Dari berteriak, bertengkar, bahkan sampai melakukan kontak fisik seperti memukul, mencubit, dan sebagainya.

Inilah kondisi yang kerap dialami keluarga dengan dua anak atau lebih. Persaingan saudara kandung ini biasanya terjadi pada adik kakak yang tak terpaut jauh antara 1-3 tahun, baik berjenis kelamin sama atau berbeda.

Prita Pratiwi SPsi, MPsi, psikolog dari Biro Konsultasi Psikologi Dwipayana, Bandung menyarankan agar orangtua melakukan beberapa hal berikut untuk mengatasi persaingan adik kakak:

Do's
1. Ketika kakak iri dengan adiknya yang masih bayi. Berikan kesempatan kepada kakak menjadi bayi selama satu hari. Berikan ke kakak makanan yang sama dengan adiknya. Jika kakak ingin makan makanan kesukaannya, katakan, "Adik bayi tidak makan nuget, tapi makan bubur dicampur dengan hati ayam," Demikian juga dengan aktivitas permainan. "Adik bayi belum bisa main sepeda roda tiga, jadi kamu hanya bermain di dalam rumah. Sambil memberikan permainan yang biasa dimainkan oleh bayi. Lama kelamaan, anak akan merasa bosan dan tidak mau menjadi bayi kembali.

2. Berikan perhatian yang sama pada si prasekolah. Ajak anggota keluarga di lingkungan rumah untuk memberikan perhatian yang sama pada si prasekolah, sehingga anak merasa tidak terjadi perubahan mencolok. Misal, bila membawa bingkisan untuk bayi, alangkah baiknya siapkan pula hadiah untuk si prasekolah.

Don'ts
1. Membanding-bandingkan kemampuan anak. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Ini akan memicu konflik semakin tajam.
2. Bila terjadi konflik, langsung membela salah satu anak. Sebaiknya cobalah unruk mwncermati kasus yang terjadi. Misalnya, kakak bertengkar dengan adik karena adik ingin meminjam mainan milik kakaknya. Jangan langsung mengatakan, "Kakak, ayo pinjamkan. Kakak lebih besar jadi harus mengalah." Mintalah mereka untuk memainkan permainan tersebut secara bergantian.

(Tabloid Nakita/Utami Sri Rahayu)

Sumber : KOMPAS.com

Mengapa Si Kakak Merasa Tersaingi?

Berikan perhatian berimbang pada si kakak juga adik, agar anak tak memiliki kecenderungan membangkang.

Di usia prasekolah, anak bisa terlibat dalam persaingan dengan adiknya yang masih bayi atau batita. Apa penyebabnya?

1. Butuh pengakuan.
Di usia 3-5 tahun, anak sudah memiliki keinginan untuk berprestasi. Dia merasa lebih bisa, lebih mampu, lebih pintar dibandingkan adik atau kakaknya, dan butuh mendapatkan pengakuan untuk itu. Si prasekolah pun tahu prestasi akan membuatnya mendapat penghargaan (berupa pujian atau hadiah) sehingga makin memacunya untuk bersaing dengan si adik.

2. Tak mau kalah.
Anak tak mau kalah. Perilaku tersebut muncul karena anak ingin mendapat perhatian dari "lingkungan" di sekitarnya. Rasa tidak mau kalah ini akan menguat ketika orang yang dianggap "saingan" adalah orang yang paling dekat dengan dirinya, termasuk sang adik.

3. Porsi perhatian yang jauh berkurang.
Bila sebelumnya kakak mendapatkan perhatian cukup deras, seiring dengan kehadiran adik (bayi), perhatian itu lambat laun surut karena terbagi. Ketidaknyamanan itulah yang memunculkan konflik adik dan kakak. Kakak menganggap, adiklah biang keladi yang membuat curahan perhatian orangtua dan lingkungan terhadapnya berkurang.

4. Sikap orangtua.
Terkadang kesibukan mengurus si kecil yang masih bayi, membuat orangtua tidak memberi perhatian cukup pada kakak. Atau saat terjadi konflik pada anak yang lebih besar (kakak prasekolah dengan adiknya batita), orangtua selalu membela adik tanpa memahami kondisi yang sebenarnya terjadi. Perlakuan orangtua kerap membanding-bandingkan. "Tuh, lihat Adik enggak susah kalau disuruh makan, enggak seperti kamu" Sikap seperti ini justru memperparah persaingan antarsaudara kandung ini.

(Tabloid Nakita/Utami Sri Rahayu)

Sumber : KOMPAS.com

Makan Apel Harusnya dengan Kulitnya

Agar anak mau makan apel bersama kulitnya, coba sajikan apel dalam irisan yang tipis

Apel memang diketahui banyak mengandung vitamin, seperti vitamin C, dan antioksidan yang berguna untuk tubuh. Menurut ahli gizi Emilia E. Achmadi, MSc, kandungan vitamin dan antioksidan pada apel paling banyak terdapat dalam kulitnya. "Sayangnya, saat ini banyak orang yang makan buah ini dengan cara mengupas kulitnya karena ketakutan akan lapisan lilin pada apel," tukas Emilia, dalam acara Healthy Fasting With Fruits di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin (23/7/2012) lalu.

Jika orang dewasa enggan melahap apel secara utuh karena mengkhawatirkan lapisan lilinnya, anak-anak menolak mengunyah apel bersama kulitnya karena kulit apel memang terasa agak liat (keras) dan sulit digigit. Padahal, menyantap apel tanpa kulit akan menghilangkan sebagian besar manfaat apel bagi kesehatan.

Maka, untuk mendapatkan aneka manfaat dari apel, sebagai orang tua Anda harus kreatif dalam menyajikan buah apel ini.

"Usahakan untuk menyajikan apel dalam kondisi segar dan jangan dimasak, agar vitaminnya tidak hilang karena proses oksidasi dan pemasakan," jelasnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyiasati agar anak mau makan apel bersama dengan kulitnya adalah dengan menyajikan apel dalam potongan-potongan yang tipis. Potongan tipis buah dan kulit apel ini akan membuat apel terasa renyah dan kulitnya tidak terasa keras, namun tetap mendapatkan manfaat dan vitamin di dalamnya.

Potongan tipis ini bisa diberikan untuk anak-anak yang enggan makan buah, namun dalam usia yang sudah cukup besar atau usia sekolah. Yang harus diingat adalah, metode ini kurang cocok diterapkan pada anak usia 1-2 tahun.

"Saat anak masih kecil dan giginya masih belum kuat, maka tidak masalah jika apel ini harus dikupas. Kulit apel belum bisa dihancurkan oleh gigi balita. Jika dipaksakan, salah-salah malah mengganggu pencernaannya," ujar Emilia.

Sumber : KOMPAS.com

Wednesday, May 23, 2012

Anak yang Pintar Main Puzzle Lebih Berbakat Jadi Insinyur

Jakarta, Hobi memainkan puzzle di masa kecil bisa memberi petunjuk terkait bakat anak di masa yang akan datang. Anak-anak yang pintar menyelesaikan puzzle sejak usia 2-4 tahun, saat dewasa cenderung lebih berbakat menjadi seorang insinyur.

Susan Levine, seorang pengamat kecerdasan pada anak dari University of Chicago mengatakan permainan puzzle atau bongkar pasang mencerminkan kemampuan spasial. Dengan memiliki kemampuan ini, anak-anak lebih pintar memikirkan obyek-obyek atau benda 3 dimensi.

Kemampuan ini juga dibutuhkan ketika anak-anak tersebut bercita-cita untuk bekerja di bidang teknik. Mau tidak mau, seorang insinyur teknik akan banyak berurusan dengan obyek-obyek 3 dimensi sehingga kemampuan spasial tentunya sangat dibutuhkan.

Untuk membuktikan hubungannya dengan permainan puzzle, Levine mengamati 53 pasangan anak dan orangtua dari berbagai latar belakang. Hasil pengamatan menunjukkan, anak-anak yang pintar memainkan puzzle di usia 26-46 bulan cenderung memilliki kemampuan spasial yang lebih baik di usia 54 bulan.

"Anak-anak yang pandai memainkan puzzle berpikir dengan lebih efisien ketika disuruh memutar-mutar obyek dan menerjemahkan bentuk," kata Levine dalam laporannya di jurnal Developmental Science, seperti dikutip dari Medicinenet, Selasa (6/3/2012).

Levine menambahkan, anak-anak yang terampil memainkan puzzle tidak hanya berbakat di bidang teknik saja. Di bidang lain yang membutuhkan kemampuan berpikir tentang obyek-obyek 3 dimensi juga akan terasa lebih mudah baginya seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Dalam peneltiannya tersebut, Levine juga mengungkap bahwa orangtua dengan status ekonomi lebih tinggi lebih sering memberikan permainan puzzle ke anak-anaknya. Selain itu, anak laki-laki cenderung lebih memilih permainan puzzle yang lebih rumit daripada anak perempuan.

http://health.detik.com/read/2012/03/06/140443/1859055/1301/anak-yang-pintar-main-puzzle-lebih-berbakat-jadi-insinyur

Hampir Sebagian Besar Anak Mengalami Kurang Minum

Jakarta, Mungkin penelitian baru dari Inggris ini akan membuka mata dan telinga kita lebar-lebar. Ternyata menurut studi tersebut, hampir dua pertiga anak-anak tidak minum cukup air saat sarapan agar terhidrasi dengan baik.

Tim peneliti dari University of Sheffield Medical School tersebut telah menganalisis 452 anak berusia 9-11 tahun dari 12 sekolah di daerah Sheffield. Penelitian ini pun dianggap sebagai yang pertama kalinya dilakukan di Inggris.

Hasilnya, ada 60 persen anak-anak di Inggris masuk kategori "tidak cukup terhidrasi" atau satu fase di bawah "dehidrasi klinis".

Untuk mendapatkan angka tersebut, peneliti mengamati apa yang dimakan dan diminum anak-anak sebelum berangkat ke sekolah. Peneliti juga mengukur osmolalitas urin, konsentrasi urin anak-anak yang merupakan indikator kunci kadar dehidrasi yang dialami seseorang.

Profesor Gerard Friedlander dari Descartes University Medical School di Paris yang mengawasi penelitian ini berkata, "Kami khawatir dengan temuan studi ini yang menunjukkan bahwa anak-anak tidaklah mengonsumsi cairan yang cukup di pagi hari untuk bisa mempertahankan hidrasi yang memadai.

"Padahal anak-anak lebih rentan terkena dehidrasi daripada orang dewasa karena tingginya rasio berat badannya. Anak-anak juga tak selalu memperhatikan rasa haus atau keinginan untuk minum sehingga mungkin tak secara alami ingin minum.

"Oleh karena itu sekarang kami akan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya hidrasi pada anak-anak dan mendorong para orang tua dan wali untuk memastikan anak-anak cukup minum pada saat sarapan sehingga anak-anak dapat mempertahankan hidrasinya, seandainya tak minum lagi sampai makan siang," ujar Profesor Friedlander seperti dilansir dari Independent, Jumat (4/5/2012)

Studi di Inggris ini menunjukkan angka dehidrasi lebih tinggi untuk anak laki-laki atau sebesar 68,4 persen dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya sebesar 53,3 persen.

European Food Safety Authority pun menyarankan agar anak laki-laki berusia 9-13 tahun untuk minum 2,1 liter cairan perhari dan anak perempuan harus mengonsumsi 1,9 liter.

Badan itu pun merekomendasikan anak-anak pada usia tersebut minum air sedikitnya 8 kali dengan gelas berukuran 150 ml perhari, sedikit lebih kecil daripada gelas ukuran yang direkomendasikan untuk orang dewasa.

Prof Friedlander menambahkan bahwa anak-anak yang tidak terhidrasi secara memadai saat sarapan berisiko terkena dehidrasi, kemungkinan pada saat jam makan siang.

Seperti kita ketahui, efek kurangnya hidrasi pada anak-anak dapat mempengaruhi performa mental seperti konsentrasi, memori jangka pendek dan pemberian perhatian. Bahkan kata profesor, dehidrasi ringan sekalipun dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, mulut kering dan penurunan jumlah urin, bahkan menghentikan air mata saat menangis.

Orang tua dan wali pun perlu menyadari bahwa anak-anak tak selalu memperhatikan rasa haus atau keinginan untuk minum seperti layaknya orang dewasa. Padahal penting bagi anak-anak untuk mengembangkan praktik-praktik hidrasi yang bagus sejak dini untuk menghindari isu-isu kesehatan pada saat dewasa seperti masalah ginjal.

Psikolog anak-anak Pat Spungin berkata, "Meski terkadang sulit mendorong anak-anak untuk minum air, terutama air putih, kuncinya adalah mendorong minum air sedikit-sedikit namun sering. Pastikan juga anak-anak minum segelar air sebelum berangkat ke sekolah atau mungkin mengepak sebotol air di tas sekolahnya sehingga bisa diminum secara rutin selama di sekolah."

http://health.detik.com/read/2012/05/04/130646/1909155/1301/hampir-sebagian-besar-anak-mengalami-kurang-minum

Sifat Orangtua yang Sebabkan Anak Mudah Marah

Jakarta, Seorang anak yang keras kepala dan temperamental mungkin dapat dibentuk oleh lingkungan di mana anak-anak dibesarkan. Tetapi ternyata sifat orangtua juga dapat mempengaruhi kepribadian anak.

Oleh karena itu orangtua harus menyesuaikan gaya pengasuhan anak untuk mengatasi masalah kepribadian anaknya.

Banyak penelitian dilakukan terhadap anak yang temperamental, salah satunya oleh psikiater Alexander Thomas dan Catur Stella di New York tahun 1956 yang mengamati perkembangan sekelompok anak dari lahir sampai awal masa dewasa.

Thomas dan Catur menemukan bahwa kepribadian anak-anak dapat dimasukkan ke dalam tiga kategori dasar yaitu mudah, sulit, dan lambat merespons sesuatu dengan kemarahan.

Penelitian tersebut juga mengidentifikasi variabel lain yang diukur dari perilaku anak seperti keinginan, kemurungan, tingkat aktivitas, perhatian, keteraturan dalam tidur, kelaparan dan fungsi biologi lainnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang temperamental secara otomatis kesulitan untuk berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Anda harus memiliki cara yang tepat untuk menangani anak Anda yang mudah marah tersebut.

Arthur Robin, direktur pelatihan psikologi di Children's Hospital of Michigan di Detroit seperti dilansir dari huffingtonpost, Selasa (7/5/2012) menjelaskan beberapa sifat orangtua yang bisa berpengaruh pada kelakuan anak:

1. Salah satu masalah umum yang ditemukan pada anak dengan ADHD atau yang temperamental adalah memiliki ibu yang pasif, depresi dan lesu.

"Anak akan bisa melakukan apapun yang dia suka karena si ibu tidak memiliki ketegasan untuk merawat dan mendidik anaknya," kata Robin.

2. Orang tua yang terlalu fleksibel dapat membuat anaknya mungkin sengaja bertingkah kaku dan keras kepala.

3. Orangtua yang selalu memenuhi keinginan anaknya akan memiliki sifat yang manja dan akan mudah marah jika keinginannya tidak segera dipenuhi.

4. Kadang-kadang masalah berakar pada sikap temperamental orang tua, bukan anak. Jika orang tua sangat moody, anak akan cenderung mudah marah, ketakutan dan mengembangkan sikap yang tertutup karena pengaruh sikap ekstrim orang tuanya.

Orang tua dapat memilih alternatif dengan mengikut sertakan anak ke dalam kegiatan positif seperti les musik atau kesenian lain yang selain dapat meningkatkan kreatifitas anak juga dapat membuat anak dapat mengontrol emosinya.

Biarkan juga anak memilih sendiri baju mana yang ingin dikenakan dan jangan memaksakan sesuatu yang tidak disukainya.

Terapi psikologi pada anak mungkin perlu dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab lain mengapa anak begitu temperamental seperti gangguan koordinasi motorik halus. Gangguan tersebut bahkan dapat mengakibatkan anak kesulitan untuk mengikat sepatunya sendiri.

Orangtua harus mulai bersikap disiplin dan lebih perhatian untuk mengatasi masalah terhadap kepribadian anaknya.

http://health.detik.com/read/2012/05/07/160058/1911201/1301/sifat-orangtua-yang-sebabkan-anak-mudah-marah

Berapa Lama Anak Boleh Menonton Televisi?

Jakarta, Saat ini hampir sebagian besar anak menghabiskan waktunya di rumah untuk menonton televisi atau bermain video game. Sebenarnya berapa lama anak boleh menonton televisi?

Psikolog menuturkan menonton televisi, bermain game di laptop atau dari smartphone sama bahayanya seperti anak-anak ini mengonsumsi junk food. Untuk itu harus diberikan batasan yang jelas.

Dr Aric Sigman dalam acara konferensi tahunan Royal College of Paediatrics menuturkan orangtua harus membatasi anak-anaknya menghabiskan waktu di depan layar. Jika tidak maka anak-anak ini akan memiliki risiko gaya hidup tidak sehat yang terkait dengan diabetes dan penyakit jantung.

Sebuah laporan dari parlemen Eropa menemukan video game bisa merangsang belajar anak dan meningkatkan keterampilan seperti pemikiran strategis, kerjasama dan kreativitas. Namun kunci utamanya adalah memastikan waktu bermainnya dikelola dengan baik.

Dr Sigman mengungkapkan anak-anak yang berusia di bawah 3 tahun sebaiknya hanya sedikit atau tidak ada waktu untuk menonton televisi setiap hari, anak berusia 3-7 tahun seharusnya boleh menonton televisi tidak lebih dari 90 menit dan remaja hingga 18 tahun hanya boleh maksimal 2 jam setiap hari.

"Anak-anak yang dibiasakan memiliki televisi di kamar tidur cenderung tidak atau belum bisa membaca pada usia 6 tahun," ujar Dr Sigman, seperti dikutip dari The Sun, Rabu (23/5/2012).

Dr Sigman menjelaskan kondisi ini yang menjadi salah satu alasan meningkatnya angka kemiskinan melek huruf di Inggris, hal ini akan memiliki efek yang cukup berarti dalam hal perhatian anak.

Sementara itu Sue Palmer, ahli perkembangan anak mengatakan anak-anak sebaiknya diperkenalkan secara bertahap agar nantinya tidak menjadi kecanduan. Berikut ini beberapa panduan yang diberikan Sue Palmer yaitu:

1. Hindari memperkenalkan layar telvisi atau komputer sampai anak berusia 2 tahun, karena penelitian menunjukkan bisa menyebabkan masalah-masalah dalam perkembangan.
2. Tentukan batas maksimum anak boleh menonton televisi atau komputer, karena anak perlu bermain secara nyata dan interaksi sosial untuk mengembangkan keterampilannya.
3. Pastikan anak boleh menonton televisi atau komputer setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya atau belajar. Buatlah peraturan yang ketat.
4. Jauhkan atau tidak meletakkan televisi di kamar tidur, tapi taruh di ruang keluarga sehingga orangtua bisa mengontrol apa yang ditonton oleh anaknya.
5. Mendorong anak untuk bermain di luar sehingga ia bisa bertemu dengan teman atau berinteraksi secara nyata dan alami.
6. Menyediakan waktu untuk keluarga seperti duduk bersama dan menghabiskan waktu bermain atau jalan-jalan dengan anak.

http://health.detik.com/read/2012/05/23/120038/1922635/1301/berapa-lama-anak-boleh-menonton-televisi

Anak yang Sering Jajan Perkembangan Otaknya Bisa Terhambat

Yogyakarta, Otak anak akan terus berkembang jika asupan protein yang diperlukan tubuhnya dapat terpenuhi. Jajanan anak yang tidak sehat bukannya memberikan asupan protein tetapi malah menghambat perkembangan otak karena kandungan zat-zat berbahaya di dalamnya.

Ketika bayi, fungsi otak telah terbentuk hingga 42 persen dan akan meningkat hingga 98 persen setelah berusia 6 tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk lebih memperhatikan asupan protein anak pada rentang usia tersebut.

"Sebelum usia 6 tahun, anak tidak boleh sampai kekurangan nutrisi apalagi kekurangan AA dan DHA yang penting untuk otak. AA dan DHA adalah jenis asam amino yang dapat diperoleh dari protein yang terkandung dalam ikan dan telur," kata dr. H. Tb. Rachmat Sentika, SpA, MARS, Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam seminar 'Aku Anak Sehat' oleh Tupperware, Rabu (23/5/2012).

Ikatan Dokter Anak Indonesia melakukan penelitian terhadap beberapa jenis jajanan anak yang dipasarkan di sekitar sekolah, sekitar 68 persen dari sampel yang diperiksa mengandung zat pewarna rhodamin yang seharusnya digunakan untuk pewarna tekstil.

Selain itu, sekitar sepertiga dari gorengan yang dijajakan oleh pedagang di pinggir jalan mengandung polivinil klorida dan zat aditif lainnya yang bertujuan sebagai pengawet dan perasa makanan serta memberi warna yang menarik.

Jika anak terus dibiarkan jajan sembarangan sejak kecil, maka tubuh tidak dapat memenuhi kebutuhan protein yang sehat untuk perkembangan otak.

Sekarang ini ada sekitar sepertiga dari anak Indonesia yang memiliki kemampuan berpikir di bawah rata-rata akibat pengaruh buruk lingkungan dan pola jajan yang tidak sehat.

Menurut data UNDP, selama 5 tahun belakangan ini telah banyak anak Indonesia yang tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar karena otak anak tidak mampu menerima pelajaran dengan baik.

Salah satu cara yang perlu dilakukan oleh orangtua untuk mencegah kemungkinan buruk tersebut adalah dengan menerapkan kebiasaan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.

Anak yang tidak sarapan, akan merasa lapar ketika jam istirahat dan memilih untuk jajan di sekolah. Bawakan juga bekal makan siang untuk anak Anda untuk membatasi kebiasaan jajan anak.

http://health.detik.com/read/2012/05/23/163200/1923009/1301/anak-yang-sering-jajan-perkembangan-otaknya-bisa-terhambat

Sunday, May 13, 2012

Anak Perempuan Lebih Gampang Sakit Karena Terlalu Bersih

Jakarta, Anak perempuan biasanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain boneka di dalam rumah, sedangkan anak laki-laki lebih suka main sepak bola di lapangan bersama teman-temannya.

Kebiasaan bermain di area yang bersih tersebut ternyata membuat anak perempuan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah daripada anak laki-laki.

Menurut hipotesis kebersihan di negara barat, penyakit yang umumnya terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang buruk termasuk asma, alergi, dan rheumatoid arthritis mungkin disebabkan oleh seseorang yang hidup di lingkungan yang terlalu bersih.

Sedangkan negara-negara bagian timur yang umumnya memiliki tingkat sanitasi yang masih buruk dan tingkat kebersihan yang lebih rendah, memiliki penduduk yang memiliki sistem imun yang kuat.

Jika seseorang telah beberapa kali terserang penyakit yang disebabkan oleh kuman, maka tubuh secara otomatis akan membentuk perlindungan.

Ketika kuman yang sama datang menyerang lagi, sistem imun tubuh telah akrab dengan kuman tersebut dan akan kebal terhadap penyakit.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Sharyn Clough, yang diterbitkan dalam jurnal Social Science and Medicine, menyatakan berdasarkan data mengenai hipotesis kebersihan, penyakit karena lemahnya kekebalan tubuh seseorang dapat disebabkan oleh perilaku masa kecilnya meliputi aspek-aspek perilaku dan psikologis.

"Anak perempuan cenderung berpakaian lebih bersih dan lebih suka bermain di dalam ruangan daripada anak laki-laki. Permainan anak perempuan juga lebih sering diawasi oleh orang tuanya," kata Clough seperti dilansir dari health, Minggu (13/5/2012).

Sehingga ada perbedaan yang signifikan dalam jenis dan jumlah kuman pada anak perempuan dan anak laki-laki, dan ini mungkin menjelaskan beberapa perbedaan kesehatan antara pria dan wanita. Wanita cenderung lebih lemah dan mudah sakit dibanding pria.

http://health.detik.com/read/2012/05/13/120435/1915927/1301/anak-perempuan-lebih-gampang-sakit-karena-terlalu-bersih?l1101755hl

Saturday, May 12, 2012

Ketika Anak Tak Mau Jalan Bersama Orangtua Lagi

KOMPAS.com - Aktivitas orangtua terkadang begitu sibuk, sehingga sulit untuk meluangkan sedikit waktu untuk bisa pergi bersama anak-anak. Begitu akhir minggu tiba, pasti Anda akan sangat bersemangat ingin mengajak mereka jalan-jalan.

Tetapi, si anak yang sudah duduk di sekolah dasar atau menjelang ABG ternyata sekarang sulit diajak pergi. Kalaupun ikut, dia tak mau lagi berjalan bergandengan tangan dengan Anda. Apalagi kalau bertemu teman-temannya. Dia akan menjauh dari orangtua dengan alasan malu.

Menurut Susan Stiffelman, MFT, pakar di bidang parenting sekaligus penulis buku Parenting Without Power Struggle, kejadian seperti ini sebenarnya lumrah terjadi seiring dengan pertambahan usia anak. Sama saja seperti anak-anak yang tak lagi mau diantar dan dicium ibunya di depan sekolah, dan langsung menghindar kabur ke dalam begitu terlihat teman-temannya.

"Bagi anak, ini adalah suatu perjalanan untuk menjadi individu yang terlepas dari orangtuanya. Meskipun hal ini dapat mengecewakan orangtua, sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam hati," anjurnya.

Masalahnya bukan terletak pada pakaian, dandanan, atau cara Anda berbicara dan menyapa teman-temannya. Namun, bagi anak-anak, kehadiran orangtua saat dia sedang berinteraksi dengan teman-temannya dapat memberinya kesan masih seperti anak kecil.

Untuk mengatasi perilaku seperti ini, Stiffelman memberikan sarannya seperti berikut:
* Berikan anak ruang untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Bila anak bertemu teman-temannya di mal, Anda bisa mengatakan akan menunggunya di dalam toko hingga dia selesai mengobrol dengan temannya. Dengan begitu, Anda masih bisa tetap mengawasinya dari jauh.

* Hindari menyuruh anak untuk berhenti bersikap menjauh. "Sebenarnya, anak-anak tidak pernah tahu alasan mengapa dia memilih untuk berjalan lebih di depan atau belakang, dan tidak mau menggandeng tangan Anda. Yang jelas, dia hanya merasa tidak nyaman dan tidak bebas bila diperlakukan demikian," kata Stiffelman.

* Jangan pernah menyatakan bahwa anak sekarang tak mau lagi dirangkul orangtuanya saat di hadapan temannya atau orang lain, meski dalam konteks bercanda. Simpan pertanyaan Anda hingga sampai di rumah dan ajak dia bicara dari hati ke hati untuk mengetahui alasannya. Buat kesepakatan agar orangtua masih bisa pergi bersamanya, tapi dia juga merasa nyaman saat menghabiskan waktu bersama orangtua.

http://female.kompas.com/read/2012/04/12/08035596/Ketika.Anak.Tak.Mau.Jalan.Bersama.Orangtua.Lagi

Bahayanya Memaksa Anak Makan

KOMPAS.com - Ketika anak-anak memasuki masa sulit makan, biasanya orangtua akan memaksa mereka makan dengan berbagai cara. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tak jarang orangtua -khususnya ibu- melontarkan paksaan dan ancaman agar anak mau menelan makanannya.

"Pemaksaan sampai ancaman ini seharusnya tidak boleh dilakukan kepada anak, karena akan memengaruhi perkembangan anak," ungkap pakar nutrisi dan diet dari komunitas Sehati, Emilia Achmadi, MSc, kepada Kompas Female, saat talkshow Enfagrow di fX, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Emilia, ada beberapa kategori yang tergolong sebagai bentuk pemaksaan kepada anak agar mereka mau makan (dan sebaiknya tidak dilakukan):

1. Memberi makanan sebagai hadiah
Dalam kategori ringan, orangtua akan memberikan berbagai iming-iming agar anak mau makan. "Misalnya, kalau mau makan maka mereka akan mendapat cokelat, es krim, dan aneka makanan lainnya," tambahnya. Meskipun anak sebenarnya tidak mau makan, namun reward yang ditawarkan akan membuat mereka mau makan demi mendapatkan makanan yang disukainya.

Meski proses iming-iming ini akan membuat anak mau makan saat itu, namun akan selalu tertanam dalam pikiran anak bahwa setelah makan mereka akan bisa menyantap makanan apa saja yang mereka inginkan. Parahnya lagi, mereka akan beranggapan bahwa makanan reward ini boleh dimakan sebanyak-banyaknya karena mereka sudah makan nasi. Efek yang paling parah, mereka tidak bisa mengontrol asupan makanan ke dalam tubuh, dan berakhir dengan obesitas.

2. Menakut-nakuti anak
Dalam kategori ini, orangtua akan mengancam anak-anaknya untuk mau makan. Biasanya mereka akan mengancam dengan berbagai hal yang tidak disukai anak. Padahal, keengganan anak untuk makan pasti ada sebabnya. Bisa jadi makanan yang disediakan kurang enak dan kurang menggugah seleranya. Namun, biasanya orangtua lebih mementingkan agar makanan yang bergizi ini disantap habis oleh sang anak.

"Yang tak kalah penting dari rasa dalam sepiring makanan adalah tampilannya, khususnya untuk anak. Dengan tampilan yang menggugah selera, anak pasti akan lebih bersemangat untuk makan," ungkap Executive Chef The Dharmawangsa Hotel, Vindex Tengker, kepada Kompas Female, dalam kesempatan berbeda.

Proses menakut-nakuti agar anak mau makan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis berupa serangan anoreksia dan bulimia pada anak. Karena "proses" makan yang mereka lakukan ini hanya dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya saja, tanpa perlu dicerna lebih lanjut di dalam perutnya. Bukan tak mungkin anak akan memuntahkan kembali makanan tersebut ketika orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi.

3. Mengancam
Kategori yang paling parah adalah ketika orangtua mulai mengancam anak-anaknya agar mau makan. Misalnya jika anak tidak mau makan, si ibu tidak mau bicara dengannya, anak akan ditinggal sendirian, atau akan dipukul saat tak mau makan, dan lain sebagainya. Proses ancaman ini ketika dilakukan dalam jangka waktu yang lama terbukti bisa menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak. "Mereka akan mengalami sentimen negatif pada makanan," tukas Emilia.

Sentimen negatif ini akan berakibat pada adanya rasa takut terhadap makanan, sehingga ketika tiba saatnya makan mereka akan selalu terbayang pada ancaman yang diberikan orangtuanya. "Ada rasa depresi ketika melihat makanan, dan akhirnya makan hanya karena takut akan ancaman orangtuanya. Ini sangat berbahaya," jelasnya.

http://female.kompas.com/read/2012/04/27/13500671/Bahayanya.Memaksa.Anak.Makan